

pena-indonesia.com – Sidoarjo. Peringatan hari Sumpah Pemuda memiliki makna tersendiri bagi Kusumo Adi Nugroho Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo dari Fraksi PDIP, mengingat dengan terjadi anak muda di Sidoarjo yang menjadi korban radikalisme. Di tengah berkembangnya teknologi yang begitu pesat, sebanyak 23 anak muda di Sidoarjo menjadi korban radikalisme.
Dalam kondisi seperti ini orang tua dan guru memiliki peran penting dalam mendampingi anak muda. Anak muda yang merupakan aset bangsa tidak boleh dibiarkan tersendiri di tengah derasnya perkembangan teknologi terutama Hp.
Hp yang memiliki aplikasi dan konten konten perlu diwaspadai oleh orang tua dan guru, karena didalam Hp itu sendiri memiliki aplikasi dan konten – konten yang berisi radikalisme, ujaran kebencian dan tindak kekerasan.
Kondisi seperti ini yang sangat membahayakan. Sehingga orang tua dan guru memiliki peran penting dalam mendampingi anak-anak.
Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo dari Fraksi PDIP, Kusumo Adi Nugroho menyampaikan bahwa dalam peringatan Sumpah Pemuda yang ke-98 tahun 2026 ini mengingatkan kita sebagai orang tua, bahwa keberadaan kita sangat penting untuk mendampingi anak-anak kita ketika menggunakan Hp di rumah. Agar anak-anak kita bebas dari paparan radikalisme, ujaran kebencian dan tindak kekerasan. Rabu (28/10/2026).
“Kita harus ingat bahwa Anak adalah titipan Tuhan sehingga kita harus menjaganya. Jangan kita disibukan oleh pekerjaan yang mengejar urusan duniawi tetapi lupa akan tugas kita untuk menjaga titipan Tuhan,” ungkapnya.
Kusumo juga menyampaikan pesan Bung Karno tentang dahsyatnya generasi muda “Beri kami 10 pemuda maka kami akan mengguncang dunia”.
Kusumo Adi Nugroho juga menyampaikan bahwa peringatan Sumpah Pemuda jangan hanya dijadikan seremonial belaka, tetapi ini adalah moment kita sebagai orang tua dan anak-anak muda untuk menghayati nilai – nilai luhur yang terkandung dalam ikrar Sumpah Pemuda.
“Untuk anak muda yang merupakan generasi penerus bangsa bersikaplah kritis di ruang digital, menjaga toleransi dan keberagaman, kanalisasi energi untuk karya nyata. Sementara itu untuk orang tua yang merupakan pendamping anak muda bangunlah komunikasi yang hangat, perkuat fondasi nilai kebangsaan dan agama yang moderat, menjadi teladan Literasi,” pungkasnya.(Titi)