MENU

Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo, Pentingnya Kurikulum Toleransi Serta Pengawasan Orang Tua dan Guru Cegah Radikalisme

2 menit membaca View : 8
admin
Pendidikan - 27 Okt 2026

pena-indonesia.com – Sidoarjo. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kondisi memberikan banyak manfaat bagi proses pembelajaran. Tetapi kondisi ini juga memberikan tantangan terhadap potensi paparan radikalisme, ujaran kebencian dan ajakan tindakan kekerasan. Oleh karena itu guru dan orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan serta kepedulian terhadap aktifitas lingkungan pergaulan dan aktifitas digital anak-anak. Upaya pencegahan dilakukan secara bijaksana melalui edukasi, pendampingan dan komunikasi secara terbuka dan penguatan kebangsaan.

Menanggapi kondisi tersebut Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo H. Abdillah Nasih mengungkapkan kami menyampaikan kepada dinas pendidikan dan kebudayaan untuk melakukan upaya – upaya pencegahan radikalisme pada anak. Hal ini sangat perlu mengingat di Sidoarjo sendiri ada 23 anak terkena paparan radikalisme.

“Pencegahan dapat kita lakukan monitoring dan pemantauan terhadap literasi anak – anak, buku bacaan ataupun Hp terkait dengan aplikasinya ataupun konten – kontennya,” ungkapnya.

Lanjut Nasih kita harapkan sekolah – sekolah melakukan pengembangan kurikulum toleransi, dalam hal ini bagaimana sikap toleransi, anti kekerasan, anti buliying ditanamkan sejak dini lewat kurikulum dan ajaran yang jelas.

Nasih juga menyampaikan selain melalui kurikulum toleransi, orang tua dan guru juga perlu mengawasi penggunaan Hp anak anak, karena apa di era digital seperti ini harus dibarengi dengan pengawasan dan pembatasan oleh orang tua dan guru di sekolah.

“Setiap orang tua dan sekolah memiliki peran besar dalam melakukan pengawasan maupun pendampingan kepada anak – anak kita saat menggunakan Hp. Di tengah perkembangan teknologi yang serba digital kita tidak bisa memberikan kebebasan pada anak. Kita harus bisa membatasi kapan anak – anak bisa menggunakan Hp,” ungkapnya.

Masih kata Nasih dalam hal ini orang tua dan sekolah harus betul-betul mengontrol mengawasi penggunaan Hp anak anak, baik itu aplikasinya maupun konten-kontennya.

“Hari ini juga kita jumpai Game-Game yang tidak semuanya berisi permainan anak-anak, tetapi ada Game-Game yang mengandung visi misi tertentu yang mempengaruhi tumbuh kembangnya anak-anak terkait adanya radikalisme ini,” ungkap Nasih.

Nasih juga menyampaikan harapan kami kurikulum toleransi segera di terapkan di sekolah-sekolah, ke depan Komisi D akan memantau sekolah – sekolah mana yang sudah menerapkan kurikulum toleransi dan sekolah-sekolah mana yang belum menerapkan kurikulum toleransi.

“Selain itu kami berharap sekolah-sekolah mengajarkan konsep keberagaman secara nyata di lapangan misalkan dialog lintas agama, dialog tentang anti kekerasan sehingga tampak keberagaman, pembauran itu dimulai sejak dini,” tambahnya.

Nasih menyampaikan pesan agar orang tua dan guru harus melakukan proses pengawasan kepada anak-anak ketika mereka menggunakan Hp ada larangan atau bagaimana. Jadi harus ada kebijakan yang kuat sebagai filter dari bahaya radikalisme.(Titi)

Join Channel Pena-Indonesia.com untuk mendapatkan update berita terbaru setiap hari.
Bagikan Disalin
🛡️ STATUS VERIFIKASI
PT. PENA INDONESIA MUKTI
TERVERIFIKASI ✓
Dokumen & Media ini telah terverifikasi resmi oleh
SMSI JAWA TIMUR

Yuk, Bergabung Menjadi
Kontributor/Wartawan
Media Online Pena-Indonesia!

📄 Cek Syaratnya Hubungi Sekarang Juga

Mau Pasang Advertorial
dan Kerja Sama
Media Partner?

Hubungi Sekarang Juga
x
CLOSE ADS