

pena-indonesia.com – Sidoarjo. Tekanan teman sebaya (peer pressure) dan ancaman bahaya narkoba bukan lagi sekadar isu lokal, melainkan tantangan global dan nasional yang dihadapi oleh seluruh sekolah di Indonesia. Di era modern yang serba digital ini, murid tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) tidak hanya dihadapkan pada tantangan konvensional yang telah lama ada seperti ajakan merokok, bullying, tawuran antar-pelajar, atau dorongan mencoba zat adiktif secara langsung tetapi juga tantangan baru yang jauh lebih kompleks akibat pesatnya arus informasi dan media sosial. Tantangan modern ini mencakup maraknya pergaulan bebas terselubung, perundungan siber (cyberbullying), hingga infiltrasi penyebaran narkotika jenis baru (New Psychoactive Substances atau NPS) yang kian cerdik menyasar kelompok usia muda melalui berbagai modus yang terselubung.
Menjawab tantangan kolektif yang makin mengkhawatirkan tersebut, SMP Al Muslim berkolaborasi secara strategis dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sidoarjo menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Berani Beda, Menolak Tanpa Ragu”. Kegiatan interaktif ini diikuti oleh seluruh murid kelas VIII dan IX SMP Al Muslim. Program ini dirancang khusus sebagai model pembelajaran preventif komprehensif guna membekali para murid dengan keterampilan komunikasi asertif, kesadaran mental, serta ketahanan diri (self-resilience) yang kokoh dalam menghadapi berbagai dinamika pergaulan remaja.
Kepala SMP Al Muslim, Ustazah Ika Sriyaningsih, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa seluruh lembaga pendidikan pada masa kini memiliki tanggung jawab moral yang sama besar untuk memproteksi para murid melalui pendekatan pedagogi yang adaptif dan relevan dengan zaman.
“Tantangan pergaulan yang dihadapi anak-anak kita hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Ancaman seperti narkoba dan perilaku berisiko lainnya kini mengintai lewat berbagai celah, baik di dunia nyata maupun media sosial. Anak-anak di usia remaja cenderung defensif jika kita hanya memberikan doktrin atau ceramah satu arah yang terkesan menggurui. Melalui metode FGD ini, kami menciptakan ruang diskusi yang terbuka, aman, dan interaktif. Kami ingin para murid mampu berpikir kritis, memahami risiko secara mandiri, dan pada akhirnya menemukan kesadaran murni dari dalam dirinya untuk membentengi diri sendiri,” ujar Ustazah Ika.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Al Muslim, Ustaz Yogi, menggarisbawahi bahwa masalah utama yang dialami para murid di berbagai sekolah sering kali tidak berawal dari niat buruk, melainkan berakar pada rasa takut diasingkan dari lingkungan sosialnya.
“Fenomena yang terjadi di hampir seluruh sekolah menunjukkan bahwa anak-anak sering kali terjerumus pada perilaku negatif bukan karena niat awal mereka, melainkan karena rasa tidak enak hati, ketakutan ditolak, atau kekhawatiran diasingkan oleh teman-temannya. Lewat kolaborasi bersama BNN Sidoarjo, kami memfasilitasi murid dengan simulasi keadaan nyata. Tujuannya adalah agar mereka memiliki keterampilan praktis dan keberanian mental dalam menyampaikan penolakan secara tegas tanpa perlu merusak hubungan pertemanan,” jelas Ustaz Yogi.
Kegiatan FGD ini menghadirkan tim narasumber dari BNN Sidoarjo yang terdiri dari Widiati Dyah K.W., S.I.Kom., Yusuf Rizal, S.H., Eka Januar W., S.I.Kom., Amalia Purnasari R., S.I.Kom, dan Bayu Purnama R., S.Pd. Tim narasumber BNN Sidoarjo mengapresiasi keaktifan para murid SMP Al Muslim dan memaparkan materi edukasi menyeluruh untuk membentuk benteng pertahanan psikologis anak.
Pencegahan bahaya narkoba tidak bisa lagi hanya sebatas mengenalkan jenis-jenis zat berbahaya secara teoritis. Dalam kegiatan FGD ini, BNN Sidoarjo memberikan materi edukasi yang menyeluruh, meliputi:
1. Pemahaman Bahaya & Modus Baru Narkoba: Mengenali secara mendalam bentuk-bentuk penyebaran zat adiktif terkini yang kian bervariasi dan menyasar psikologis remaja.
2. Dampak Psikologis Peer Pressure: Mengupas akar penyebab mengapa usia remaja sangat rentan terpengaruh oleh tekanan serta validasi kelompok sebaya.
3. Teknik Komunikasi Asersif: Melatih gestur dan tata cara menolak ajakan negatif secara langsung, jelas, dan percaya diri, namun tetap santun.
4. Manajemen Lingkungan Pertemanan (Positive Circle): Memberikan pemahaman akan pentingnya mengelilingi diri dengan sahabat yang saling mendukung tumbuh kembang positif.
“Melalui tiga benteng utama ini ketegasan tanpa kekerasan, keteguhan pada prinsip diri, serta kecerdasan memilih lingkungan seorang murid akan memiliki kepribadian yang tangguh sehingga tidak akan mudah terpengaruh oleh ajakan negatif dari luar,” tegas perwakilan BNN Sidoarjo.
Metode diskusi terarah dan simulasi situasi ini terbukti memberikan perspektif baru yang berkesan bagi para peserta. Juna, salah satu murid kelas VIII yang menjadi peserta aktif FGD, menyampaikan pengalamannya dalam menghadapi dilema pertemanan sehari-hari.
“Dulu kalau ada ajakan teman yang kurang baik, saya sering merasa bingung, ragu, dan takut dibilang tidak kompak atau diasingkan dari kelompok. Namun, setelah mengikuti FGD dan mendapatkan materi serta bimbingan langsung dari BNN Sidoarjo, saya jadi paham bahwa menolak hal buruk itu bukan berarti kita sombong atau merusak pertemanan. Justru itu adalah wujud rasa sayang dan kepedulian terhadap masa depan diri sendiri. Sekarang saya merasa jauh lebih berani dan tahu cara mengatakan ‘tidak’ secara sopan tetapi tetap tegas,” tutur Juna dengan optimis.
Melalui penyelenggaraan FGD bertema “Berani Beda, Menolak Tanpa Ragu” ini, SMP Al Muslim berharap model edukasi interaktif berbasis kesadaran kritis ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi lingkungan internal sekolah, tetapi juga dapat diadaptasi oleh sekolah-sekolah lain di seluruh Indonesia. Sinergi yang berkelanjutan antara lembaga pendidikan, orang tua, dan instansi resmi seperti BNN menjadi kunci utama dalam mencetak generasi muda Indonesia yang berkarakter kuat, berintegritas tinggi, dan berani menolak segala bentuk ancaman negatif demi masa depan bangsa.(Titi)