

pena-indonesia.com – Sidoarjo. DPRD Kabupaten Sidoarjo mendukung program bus gratis untuk para pelajar. Layanan bus gratis diharapkan dapat membantu mobilitas pelajar, sekaligus mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor saat jam berangkat dan pulang sekolah.
Dishub Sidoarjo sendiri diketahui akan meluncurkan 5 unit bus ukuran sedang dengan kapasitas 25-30 penumpang yang akan beroperasi mulai tahun 2026. Layanan ini akan menggunakan sistem antar-jemput yang disesuaikan dengan jam masuk dan pulang sekolah.
Namun demikian, Abdillah Nasih menilai cakupan rute bus sekolah yang saat ini direncanakan masih terbatas. “Kalau menggunakan bus sekolah ini kan hanya melayani cakupannya terbatas, Buduran-Kota-Candi-Porong. Dan cenderung tidak bisa menjangkau titik padat penduduk,” kata Abdillah Nasih, Kamis (17/9/2026).
Politisi senior PKB Sidoarjo tersebut mencontohkan, wilayah-wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi seperti Kecamatan Waru, Taman, Tulangan dan Krian belum terjangkau secara maksimal. Untuk itu, ia mengusulkan agar pemerintah tidak hanya mengandalkan bus, tetapi juga melibatkan angkutan kota (angkot) atau lyn yang sudah ada.
Menurutnya, pelibatan angkot justru akan memberikan dampak ganda, tidak hanya untuk pelajar tetapi juga untuk menghidupkan ekonomi kerakyatan. “Jalan-jalan di Waru sepanjang, misalkan Tulangan sana yang tidak memungkinkan. Alangkah lebih baiknya kerja sama dengan lyn ataupun angkot,” ujarnya menjelaskan kondisi lapangan.
Abdillah Nasih menawarkan konsep inovatif berupa sistem langganan atau abonemen. Dalam skema ini, pelajar yang membutuhkan transportasi akan diberikan kupon atau kartu langganan bulanan secara gratis oleh pemerintah.
Kupon tersebut nantinya dapat ditukarkan oleh sopir angkot kepada pemerintah daerah sebagai bentuk subsidi atau penggantian biaya operasional. “Jadi pelajar tetap gratis, angkot juga tetap beroperasi dan produktif,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya ketepatan waktu dalam operasional. “Jam antar jemput juga harus on time, tidak boleh telat,” tambah Abdillah, agar tidak mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolah.
Selain soal skema subsidi, Ketua DPRD juga mendorong adanya pembinaan dan dukungan armada bagi para sopir angkot setempat. Armadanya harus diremajakan agar lebih layak, aman, dan nyaman digunakan oleh pelajar.
Dukungan tersebut, menurutnya, bisa disalurkan melalui program Kredit Usaha Daerah (Kurda) dengan bunga ringan untuk peremajaan dan rehabilitasi angkot. Dengan begitu, kualitas layanan angkutan umum di Sidoarjo akan meningkat secara keseluruhan.
Abdillah menilai, jika shelter bus sekolah hanya ada di titik-titik tertentu, belum tentu bisa menjangkau semua pelajar, terutama yang rumahnya di dalam gang. Sementara angkot memiliki daya jangkau yang lebih fleksibel hingga ke permukiman padat.
“Ini tentang efisiensi anggaran dan sekaligus pemberdayaan ekonomi lokal. Kita dorong program yang pro masyarakat dan inklusif. Angkot tersebut juga bisa dinikmati oleh masyarakat tidak hanya pelajar,” kata Abdillah Nasih.
Pada prinsipnya, DPRD Sidoarjo sangat mendukung program bus sekolah gratis agar tidak semakin crowded di jalan. Namun pihaknya mendorong agar pelaksanaannya dilakukan secepat mungkin dan dengan konsep yang lebih luas, kolaboratif, dan berkelanjutan demi kepentingan pelajar dan ekonomi masyarakat Sidoarjo.(Titi)