Tantangan Pendidikan 2026, Kadisdikbud: Perubahan Harus Dimulai dari Pemimpin Sekolah

2 menit membaca View : 109
Penaindonesia

Sidoarjo (www.pena-indonesia.com/) – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sidoarjo, Dr. Ng. Tirto Adi, M.Pd menegaskan bahwa kualitas guru dan kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor paling menentukan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Hal itu disampaikan dalam Seminar Pendidikan 2026 bertema “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Antara Tantangan dan Harapan” yang digelar Gerakan Budaya Literasi (GBL) Sidoarjo di Sun Hotel, Kamis (21/5/2026).

Di hadapan ratusan peserta, Tirto Adi menyoroti pandangan umum yang selama ini mengukur kualitas sekolah dari fasilitas mewah atau input siswa yang unggul. Menurutnya, pendekatan seperti itu tidak lagi relevan untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini.

“Ada sekolah dengan fasilitas lengkap, bahkan kolam renang dan laboratorium modern. Tapi itu belum menjamin menghasilkan lulusan berkualitas,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sekolah unggul sejati adalah sekolah yang kuat dalam proses pembelajaran. Tirto menyebut model sekolah unggul tipe ketiga, yaitu sekolah yang mampu mengubah potensi biasa menjadi hasil luar biasa melalui guru-guru yang kompeten.

“Masukannya biasa saja, fasilitasnya juga biasa. Tapi kalau dipimpin dan dibimbing guru hebat, hasilnya bisa luar biasa. Kuncinya tetap pada guru,” tegasnya.

Dalam pemaparannya, Tirto mengutip pandangan pakar pendidikan global Andy Hargreaves yang menyebut peran guru sebagai faktor paling menentukan arah perubahan pendidikan.

Baginya, pergantian kurikulum dan kebijakan tidak akan banyak berdampak jika tidak dibarengi peningkatan kualitas guru. Namun, ia menekankan bahwa perubahan harus dimulai dari kepala sekolah sebagai pemimpin utama.

“Kepala sekolah itu the key person. Kalau pemimpinnya visioner, guru-gurunya akan tumbuh,” katanya.

Selain kepemimpinan, Tirto juga menyoroti pentingnya budaya literasi bagi pendidik. Kebiasaan membaca dan menulis, menurutnya, menjadi fondasi agar kebijakan pendidikan tidak diterapkan secara keliru.

“Kalau budaya membaca dan menulis kuat, implementasi pendidikan tidak akan asal-asalan atau malpraktik,” ujarnya.

Seminar Pendidikan 2026 ini diikuti sekitar 766 peserta dari berbagai jenjang, mulai PAUD, TK, SD hingga SMP negeri dan swasta di bawah naungan Disdikbud Sidoarjo. Ketua penyelenggara, M. Wahyudi, S.Pd, menyebut kegiatan tersebut menjadi ruang bertukar gagasan dan meningkatkan kompetensi pendidik dalam menghadapi persoalan pendidikan di daerah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Bagikan Disalin

Sertifikat SMSI Jawa Timur

x
x
x